AC Milan 1990 © UEFA
AC Milan 1990 © UEFA

Berita Bola | Milan, Dia adalah Milanku Tahun 1990

Berita Bola – “Jangan Rindu. Berat. Kamu gak akan kuat. Biar aku saja,” mungkin begitulah jawab Milan jika dia manusia dan punya mulut—kepada pendukung Milan yang sedang rindu klub kesayangannya tersebut menjadi juara.

Pada tahun 90-an, klub yang bermarkas di San Siro itu memang pantas untuk dirindukan. Kala itu, Milan tengah menikmati masa-masa indah,  seperti kisah-kasih anak remaja yang duduk di bangku SMA.

Milan saat itu seperti sosok Dilan yang bisa memikat hati, termasuk memikat hati perempuan dengan cara yang unik dan elegan. Dilan adalah karakter yang sedang hits baru-baru ini dari  film berjudul ‘Dilan 1990’. Itu adalah film yang diambil dari novel karya Pidi Baiq: ‘Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990’.  Karya tersebut ditulis berdasarkan kisah nyata dengan latar waktu tahun 1990 di Bandung.

Bersamaan dengan kisah Dilan di tahun 1990 itu, Milan juga punya kisah manis tersendiri. Kala itu, Milan adalah kekuatan besar. Milan sangat disegani di Italia hingga Eropa.  Di pelataran Milan saat itu merupakan tempatnya berkumpul para pemain yang saat ini  menyandang legendaris. Waktu itu, Milan memiliki orang-orang fantastis seperti Franco Baresi yang merupakan pentolan dalam klub berjuluk Rossoneri tersebut. Di sana juga terdapat Marco van Basten, Ruud Gullit, Carlo Ancelotti, Emetrio Albertini, Frank Rijkaard dan Paolo Maldini yang masih berusia 22 tahun.

Selama berada di bawah bimbingan Arrigo Sacchi, Milan mampu menjuarai dua gelar Liga Champions pada tahun 1989 dan 1990. Menjuarai kompetisi ini secara beruntun merupakan rekor tersendiri bagi Milan karena sebelumnya tidak ada klub yang mampu mencapai prestasi seperti ini. Adapun pada tahun 1990, Milan tercatat memenangkan tiga gelar secara bersamaan di antaranya gelar Liga Champions, Piala Intercontinental, dan Piala Super Eropa.

Rekomendasi:

Nah, ketika akhirnya Dilan mendapatkan cinta Milea Adnan Hussain di Warung Bi Eem pada tahun 1990 itu, mungkin pada saat itu bertepatan ketika Milan angkat trofi juara.

Melihat kegemilangan itu, Milan pun menjadi acuan bagi bagi klub-klub di Eropa. Sejak kehadiran Sacchi, Milan memiliki filosofi bermain yang berbeda daripada yang lain.  Saat itu, Milan menggunakan formasi 4-4-2 dengan sistem bermain zonal marking, jarak antara lini pertahanan dan gelandang tidak lebih dari 25 hingga 30 meter. Dengan barisan pertahanan yang tinggi seperti itu – dan dengan menerapkan jebakan offside yang efisien—cari itu terbukti mampu memberikan tekanan pada lawan.   Real Madrid mampu dihajar dengan agregat 6-1 di semi final Liga Champions 1989 sebelum mengalahkan Steaua Bucuresti di partai puncak. Pada tahun berikutnya, Milan menjadi juara setelah mengalahkan Benfica 1-0 di babak final.

Gaya bermain Milan pada tahun 90-an itu sangat bertolak belakang dengan gaya bermain tim-tim di Italia pada umumnya, di mana mereka kebanyakan memberikan penekanan pada lini pertahanan. Namun Milan di bawah kendali Sacchi ini punya gaya sendiri.

“Kebanyakan tim Italia fokus terhadap pertahanan. Setiap tim bermain dengan libero dan man-marker. Di lini serang, semua bergantung pada kemampuan individu dan kreativitas nomor 10,” ucap Sacchi seperti dikutip UEFA.com.

Sacchi mengubah wajah Milan. Ia memiliki sebuah konsep di mana setiap pemain dalam timnya harus memiliki peran masing-masing yang ia sebut dengan ‘kecerdasan kolektif’. Sacchi kemudian menerapkan cara berlatih yang unik. Ia meminta para pemainnya bermain satu pertandingan penuh tanpa bola. Sekali lagi, tanpa bola. Pasukannya disuruh berimajinasi seolah-olah ada bola di sekitar mereka. Cara ini untuk melatih kecerdasan pemain dalam menempatkan diri di atas lapangan dan  bagaimana cara memberikan respon terhadap pergerakan tim.

“11 pemain yang aktif dalam setiap momen dalam pertandingan, baik dalam bertahan dan menyerang,” kata Sacchi.

Ia menekankan pentingnya bermain secara kolektif sebab dalam sebuah permainan sepakbola, prestasi jangka panjang tak mungkin bisa dicapai dengan aksi individu belaka.

“Anda tak bisa mencapai apapun dengan mengandalkan diri kalian sendiri, dan jika kamu bisa melakukan itu, tak akan bertahan lama,” ucap Sacchi.

Sepanjang tahun 90-an, Milan terbukti hampir tak pernah absen menyabet gelar. Kestabilan tim seperti ini merupakan peninggalan Sacchi yang sukses membangun pondasi tim yang kuat sejak ia melatih Milan pada tahun 1987.

Wajar jika Milan menjadi klub pujaan banyak orang sejak saat itu. Mereka dinilai telah menciptakan sejarah dalam dunia sepakbola.

Milan Saat Ini

Memasuki tahun 2000-an, Milan masih sempat jaya dengan menyabet beberapa gelar di Serie A dan juga Liga Champions pada tahun 2007. Milan terakhir kali menjadi juara di Serie A yaitu pada tahun 2011.

Milan terus mengalami kemunduran sejak saat itu. Kesulitan finansial melanda. Silvio Berlusconi yang membeli klub ini pada tahun 1986 harus melepas seluruh kepemilikannya pada konsorsium asal Tiongkok tahun lalu.

Di era baru ini, Milan belum juga mampu menunjukkan keganasan taringnya yang tajam seperti di masa silam. Pada musim panas lalu, Milan mencoba bermain agresif dalam belanja pemain. Hal itu sekaligus menjadi tanda-tanda kebangkitan.

Namun upaya tersebut rupanya belum cukup memberikan hasil signifikan. Sampai saat ini, Milan masih tertinggal di peringkat tujuh di Serie A pada pekan ke-22. Level Milan masih jauh jika dibandingkan dengan Juventus yang dalam enam musim terakhir begitu superior di tanah Italia. Jangankan dengan Juventus, tim yang saat ini ditangani Gennaro Gattuso tersebut tertinggal dari Sampdoria atau Lazio di klasemen sementara ini.

Ketika bermain menghadapi klub-klub yang tak terlalu diperhitungkan di Eropa, Milan sekarang kerap mengalami kesulitan. Apalagi menghadapi klub besar seperti Barcelona yang saat ini dalam masa keemasan,  Milan bisa dikatakan sebagai lawan yang tidak sepadan.

Melihat kondisi seperti sekarang, menjadi fans Milan memang tidaklah mudah. Berbangga dengan sejarah adalah cara yang kerap dilakukan untuk tetap membesarkan hati.

Akan sangat menjengkelkan jika tiba-tiba  Dilan dengan usil bertanya pada fans Milan.

Agen Judi online

“Kamu fans Milan, ya?”

“Iya, klub yang pernah tujuh kali menjuarai Liga Champions dan 18 kali juara Serie A.”

“Aku ramal kamu akan juara lagi di tahun 2987.”

Masih lama. Tapi semoga saja kata Sang Peramal itu benar.

Baca Juga:

 

Judi Online | Agen Judi Online | Berita Bola | Prediski Bola | Bola | Poker Mania | Data Sgp |Poker

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here